Virgil Griffith, peneliti Ethereum yang sempat menjadi sorotan global karena kasus hukum terkait Korea Utara, kini resmi dibebaskan dari penjara. Menurut pernyataan resmi dari Biro Penjara Amerika Serikat (BOP), Griffith dibebaskan pada 9 April 2025 dan saat ini menjalani masa transisi di rumah singgah sambil menunggu proses pembebasan bersyaratnya selesai.
Griffith sebelumnya dijatuhi hukuman penjara selama 63 bulan (sekitar 5 tahun 3 bulan) pada April 2022 setelah mengaku bersalah atas dakwaan melanggar Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). Ia dituduh memberikan informasi teknis dalam bentuk presentasi berjudul “Blockchains for Peace in North Korea” di konferensi yang diadakan di Pyongyang pada tahun 2019.
Pemerintah AS menilai isi ceramah tersebut berpotensi membantu Korea Utara menghindari sanksi ekonomi internasional melalui teknologi blockchain dan kripto. Meskipun materi yang disampaikan Griffith sebagian besar tersedia secara publik di internet, otoritas menilai tindakannya sebagai pelanggaran serius terhadap kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.
Kontroversi dan Proses Hukum Panjang
Kasus Griffith menjadi simbol ketegangan antara inovasi teknologi dan batasan hukum internasional. Awalnya, Griffith mengaku tidak bersalah dan tim hukumnya berupaya membatalkan dakwaan dengan alasan bahwa semua informasi yang ia sampaikan bersifat umum dan bukan rahasia.
Namun, pada September 2021, ia akhirnya mengaku bersalah dalam rangka kesepakatan dengan pemerintah untuk menghindari hukuman yang lebih berat. Sebagai bagian dari hukumannya, ia juga dikenai denda sebesar $100.000.
Pada April 2024, tim hukumnya mengajukan permohonan pengurangan hukuman dengan alasan perilaku baik dan perubahan kebijakan internal. Meskipun jaksa penuntut menolak permohonan tersebut, Hakim Kevin Castel di New York memutuskan untuk mengurangi masa hukuman Griffith menjadi 56 bulan.
Refleksi Bagi Dunia Kripto
Pembebasan Griffith menjadi momen refleksi bagi komunitas blockchain global. Kasus ini menyoroti bagaimana teknologi terdesentralisasi seperti blockchain bisa menjadi topik sensitif dalam konteks geopolitik dan regulasi. Banyak pihak menilai kasus Griffith sebagai contoh ekstrem dari bagaimana kebebasan berbagi informasi teknologi dapat berbenturan dengan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.
Kini, setelah menghabiskan lebih dari tiga tahun di balik jeruji besi, Griffith akan kembali ke kehidupan sipil—dengan masa depan yang masih belum sepenuhnya jelas di dunia kripto yang telah banyak berubah sejak ia ditahan.